Wisata Agro Malabar, Bandung
Malabar merupakan salah satu puncak yang dimiliki Pegunungan Malabar, dimana Gunung Malabar adalah sebuah gunung api yang terdapat di Pulau Jawa, Indonesia. Gunung ini terletak di bagian selatan Kabupaten Bandung dengan titik tertinggi 2,343 meter di atas permukaan laut.
Kawasan Gunung Malabar mulai melihat potensi keindahan kawasan itu sejak sebelum tahun 1890. Ketika itu orang-orang Belanda di Bandung mulai berdatangan ke Pengalengan baik untuk beristirahat, mengerjakan proyek irigasi maupun untuk berdagang. Saat perkebunan teh Malabar didirikan pada tahun 1896 oleh Karel Albert Rudolf Bosscha, kawasan itu pun jadi makin dikenal oleh masyarakat luas.
Bosscha, kelahiran Belanda 1865, tiba di Indonesia pada 1887 pada usia 22 tahun, untuk mempelajari budi daya teh di Jawa Barat. Pada 1896, ia mendirikan Perkebunan Teh Malabar dan kemudian dikenal sebagai administrator perkebunan-perkebunan teh di Kecamatan Pangalengan, sampai meninggalnya pada 26 November 1928. Selama 32 tahun masa jabatannya di perkebunan teh itu, ia mendirikan dua pabrik teh.
Selain dikenal sebagai administrator kebun teh, Bosscha juga dikenal banyak menyumbangkan pikiran, tenaga, dan dana bagi kepentingan-kepentingan sosial dan pembangunan Kota Bandung, seperti Observatorium Bosscha di Lembang, Bala Keselamatan di Jalan Jawa, sekolah bagi penyandang tunarungu dan tunawicara, Telefoon Maatschappij voor Bandung en Preanger di Jalan Tegallega (kini PT INTI), serta kompleks Nederlands-Indische Jaarbeurs (Pekan Raya) yang kini menjadi kantor Kologdam.
Bosscha menjadi ketua Biro Spesialis Teh pada 1910, ketua Pertanian Percobaan pada 1917, dan menjadi anggota dewan penyantun untuk Tehnische Hogereschool (kini ITB) sampai 1928. Ia juga mendirikan Institut Kanker dan yang pertama kali memperkenalkan satuan hektare dan kilometer untuk menggantikan satuan tradisional pal dan bahu. Atas jasa-jasanya, ia diangkat sebagai warga kehormatan Kota Bandung dan kini namanya diabadikan pula sebagai nama sebuah jalan di utara Bandung.
Dan memang nama Malabar sendiri lebih tertuju pada Perkebunan teh Malabar, yang juga dikenal dengan nama Wisata Agro Malabar, dimana perkebunan ini termasuk perkebunan tua. Perkebunan teh yang sekarang masuk dalam wilayah administrasi PT Perkebunan Nusantara (PTPN) VIII dikenal menghasilkan teh dataran tinggi bermutu. Berada di ketinggian lebih dari 1.000 meter di atas permukaan air laut, suhu udara rata-rata 16 derajat celsius sampai 25 derajat celsius. Letak perkebunan teh itu 45 kilometer di sebelah selatan Kota Bandung, di kaki Gunung Malabar.
Selain terkenal dengan produk tehnya, kawasan itu juga dikenal karena keindahan pemandangan alamnya. Karena dibangun pada masa pendudukan pemerintah kolonial Belanda, kawasan itu tentu menyimpan tempat-tempat bersejarah. Di tempat itu juga masih bisa dijumpai Wisma Malabar, yang aslinya dibangun pada 1894 sebagai kantor administratur perkebunan Malabar, sekaligus sebagai rumah tinggal KAR Bosscha. Bangunan lain, Wisma Melati, dibangun pada 1898. Bangunan itu dulunya rumah tinggal wakil administratur perkebunan. Kini Wisma Melati disewakan untuk wisatawan. Rumah para pemetik teh yang dibangun pada 1890 sebagai rumah asli Sunda tempo dulu, juga masih dipertahankan otentisitasnya.
Satu tempat bersejarah yang wajib dikunjungi adalah makam KAR Bosscha, tak jauh dari Wisma Malabar. Makam itu terletak di hutan kecil, di tengah-tengah kebun teh. Kondisinya terawat, dikelilingi pagar, dan tanaman coleus warna-warni menghiasi halamannya. Pemandu dari Wisata Agro Malabar menceritakan, tempat ini dahulunya merupakan tempat Bosscha melepas lelah setelah menginspeksi kebun teh.
Kini kediaman Meneer Bosscha itu telah diperbaraui lagi dan ruangannya ditambah hingga menjadi 11 kamar. Dan pleh oleh PTPN VIII Wisma Malabar dan Wisma Melati disewakan bagi para wisatawan yang ingin berkunjung dan ingin menginap di daerah ini. Aktivitas yang dapat dilakukan adalah berjalan kaki menyusur kebun teh (tea walk), mendaki Gunung Papandayan, main perahu di situ Cileunca, dan lain sebagainya.
Selain itu, di areal perkebunan seluas 2 Ha itu terdapat pemandian air panas Cibolang. Pemandian ini resmi dibuka untuk umum pada tahun 1985. Dulu di tempat itu hanya tersedia 2 buah kolam renang untuk anak-anak dan dewasa. Kini sudah ditambah pemandian bak tertutup sebanyak 6 pintu, musholla, shelter serta restoran yang menjajakan berbagai menu masakan Sunda. Air yang hangat itu merupakan aliran air yang berasal dari kawah Gunung Windu. Dan air panas ini dipercaya dapat menyembukan berbagai penyakit gatal-gatal, kulit dan reumatik.
Tempat lain yang juga jadi tujuan wisata di kawasan itu adalah Gunung Nini. Walaupun hanya sebuah bukit, tempat itu banyak dikunjungi wisatawan untuk menikmati pemandangan indah dari pegunungan yang melingkungi Malabar, Situ Cileunca. Saat yang sering ditunggu-tunggu wisatawan adalah menunggu matahari terbit di antara Gunung Wayang dan Gunung Windu.
Rekomendasi Hotel

Crowne Plaza Jakarta adalah sebuah "global business hotel" yang sangat memahami dan mengerti kebutuh...

Termasuk salah satu hotel terbaru yang ada di Malang, mulai beroperasi tahun 2005. Tergolong sebaga...

Hotel yang dibangun pada tahun 1910 oleh Sarkies bersaudara yang juga merupakan arsitek dari Raffles...


