Masjid Istiqlal
Masjid Istiqlal adalah masjid yang terletak di pusat ibukota negara Republik Indonesia, Jakarta, dan merupakan masjid terbesar di Indonesia dan Asia Tenggara. Masjid Istiqlal ini terbesar di Asia Tenggara dilihat dari kemampuannya untuk menampung jamaah, struktur gedung, dan luas lahan.
Masjid ini berlokasi di timur laut lapangan Monumen Nasional (Monas), tepatnya di Jl. Taman Wijaya Kusuma, Jakarta Pusat. Bangunan utama masjid ini terdiri dari lima lantai, mempunyai kubah yang diameternya 45 meter, dan mampu menampung umat hingga lebih dari dua ratus ribu jamaah.
Selain digunakan sebagai aktivitas ibadah umat Islam, masjid ini juga digunakan sebagai kantor Majelis Ulama Indonesia, aktivitas sosial, dan kegiatan umum. Masjid ini juga menjadi salah satu daya tarik wisata yang terkenal di Jakarta. Pada tiap hari besar Islam seperti Idul Fitri, Idul Adha dan Maulid Nabi Muhammad, presiden Republik Indonesia selalu mengadakan kegiatan keagamaan di masjid ini yang disiarkan secara langsung melalui televisi.
Mesjid Istiqlal ini dibangun untuk memperingati kemerdekaan Indonesia, yaitu sebagai wujud rasa syukur bangsa Indonesia atas berkat dan rahmat Allah SWT atas kemerdekaan yang diperoleh. Oleh karenanya Mesjid Nasional ini dinamakan "Istiqlal", yang berasal dari bahasa Arab yang berarti kemerdekaan.
Sejarah
Ide pembangunan masjid ini awalnya muncul pada tahun 1949, yakni setelah penyerahan kedaulatan negara oleh Pemerintah Kolonial Belanda kepada rakyat Indonesia. Ide ini lahir dari para ulama dan tokoh ternama pada saat itu, di antaranya K.H. Wahid Hasyim (Menteri Agama RI pertama), H. Agus Salim, Anwar Cokroaminoto, Ir. Sofyan, dan K.H. Taufiqurrahman. Ide pembanguan masjid ini disambut hangat oleh presiden RI saat itu, Ir. Soekarno. Bahkan pada waktu itu Ir. Soekarno berusaha keras membantu realisasi pembangunan masjid.
Setelah mendapat persetujuan, pada tahun 1953, dibentuklah panitia pembangunan masjid yang diketuai oleh Anwar Cokroaminoto, yang selanjutnya ditunjuk sebagai Ketua Yayasan Masjid Istiqlal. Kepanitiaan ini bertugas untuk merealisasikan pembangunan masjid secara keseluruhan. Melalui kepanitiaan ini, pada tahun 1954, Ir. Soekarno diangkat sebagai Kepala Bagian Teknik Pembangunan Masjid Istiqlal dan juga ditetapkan sebagai juri sayembara maket pembangunannya.
Pada tahun 1955, panitia ini mengadakan sayembara membuat sketsa dan maket pembangunan Masjid Istiqlal. Konon, sayembara ini diikuti oleh 30 peserta. Di antara 30 peserta tersebut terdapat 27 orang yang menyerahkan sketsa dan maketnya. Namun, dari 27 peserta hanya 22 peserta yang memenuhi persyaratan lomba. Setelah menilai dan mengevaluasi, akhirnya dewan juri menetapkan lima peserta sebagai nominator. Lima peserta tersebut adalah F. Silaban dengan tema “ketuhanan”, R. Oetoyo dengan tema “istigfar”, Hans Groenewegen dengan tema “salam”, lima mahasiswa ITB dengan tema “ilham”, dan tiga mahasiswa ITB dengan tema “khatulistiwa”. Setelah melalui proses panjang, dewan juri kemudian menetapkan F. Silaban sebagai pemenang. F. Silaban adalah seorang keturunan Batak yang beragama Nasrani.
Proyek pembangunan masjid ini ternyata tidak berjalan secara mulus dan mudah. Sejak direncanakan pada tahun 1950-an hingga 1960-an masjid ini belum selesai didirikan. Tersendatnya pembangunan ini dikarenakan situasi politik pada saat itu yang memang kurang mendukung dan menguntungkan. Pada tahun-tahun itu, demokrasi parlementer diterapkan. Partai-partai politik saling bertikai dan memperebutkan kepentingannya masing-masing. Kondisi ini memuncak pada 1965—1966 saat meletus peristiwa G30 S/PKI. Praktis pada saat itu pembangunan masjid terhenti sama sekali.
Setelah situasi politik mereda, Menteri Agama pada saat itu, K.H. M. Dahlan, memelopori pembangunan kembali masjid ini. Kepengurusan Ir. Soekarno kemudian diganti oleh K.H. Idham Chalid yang bertindak sebagai Koordinator Panitia Nasional Pembangunan Masjid Istiqlal yang baru. Di bawah kepengurusan baru, proses pembangunan masjid ini akhirnya selesai pada tanggal 31 Agustus 1967 dan diresmikan pada tanggal 22 Februari 1978 oleh Presiden Soeharto.
Keistimewaan Mesjid Istiqlal
- Masjid Istiqlal terkenal dengan kemegahan bangunannya. Luas bangunannya sekitar 2,5 hektar dan menempati area tanah seluas 9,5 hektar dengan tinggi sekitar 55,8 meter.
- Masjid ini mempunyai arsitektur yang khas, yaitu corak bangunannya bergaya arsitektur Islam modern. Wisatawan yang berkunjung ke masjid ini dapat melihat konstruksi kokoh bangunan masjid yang didominasi oleh batuan marmer dan besi anti karat, mulai dari lantai, dinding, hingga kubahnya. Kubah masjid ini sendiri mempunyai diameter 45 meter yang terbuat dari kerangka baja stainless steel dari Jerman Barat dengan berat 86 ton. Bagian luar kubah dilapisi dengan keramik. Ukuran diameter kubah (45 meter) melambangkan penghormatan dan rasa syukur kepada Tuhan atas karunia kemerdekaan Indonesia pada tanggal 18 Agustus 1945.
- Masjid ini mempunyai lantai berjumlah lima. Atap kubahnya ditunjang oleh 12 kolom yang berdiameter 2,5 meter. Lima lantai melambangkan shalat lima waktu yang menjadi kewajiban umat Islam, sedangkan 12 kolom melambangkan tanggal kelahiran Nabi Muhammad SAW (12 Rabiul Awal).
- Di dalam Masjid ini terdapat bedug terbesar di Indonesia. Bedug ini bergaris tengah sekitar 2 meter dengan panjang 3 meter dan berat 2,3 ton. Konon, bedug ini terbuat dari pohon meranti yang telah berumur 300-an tahun.
- Menara masjid yang terletak di sebelah timur dengan ketinggian 6.666 cm dengan diameter 5 meter. Hal ini melambangkan jumlah ayat dalam Al-Qur‘an.
Secara umum, bangunan masjid ini terdiri dari gedung induk, gedung pendahulu, teras raksasa, dan emper keliling. Gedung pendahulu terletak di belakang gedung utama. Fungsi utama gedung pendahulu adalah sebagai ruangan tambahan menuju gedung utama, sedangkan emper keliling adalah ruangan samping yang mengapit gedung utama yang juga disebut teras keliling. Sementara itu, bangunan teras raksasa terletak di sebelah kiri belakang gedung utama. Bangunan teras ini sengaja dibuat untuk menampung jamaah shalat dalam jumlah besar, seperti pada saat shalat Idulfitri dan Iduladha. Teras raksasa juga sering difungsikan sebagai tempat acara-acara keagamaan, seperti lomba seni baca Al-Qur‘an (MTQ) dan manasik haji.
Tour Keluarga

Day 1. Tiba di Jakarta - Transfer ke hotelSetibanya di Jakarta, anda akan dijemput dan disambut oleh guide kami untuk kemudian bersama-sama menuju hot...

HARI 01 : Medan – Parapat (D) Tiba di bandara Polonia, anda akan dijemput, bersama tour guide kami meninggalkan Medan menuju Parapat Danau Toba dana...

Day 01. Tiba di Makassar - Tana Toraja (LD)Setibanya di Hasanuddin airport, anda akan disambut oleh guide kami. Selanjutnya kita akan berkendara ku...

Day 01 : Transfer in – Waruga – Tondano - Rurukan (D)Setibanya di airport Sam Ratulangi Manado, dijemput dan langsung menuju local restaura...
Tour Pasangan

Hari 1: CITY TOUR - KRATON - TAMAN SARI - KOTAGEDE - BATIK - PARANGTRITIS (L,D)Anda kami jemput di Bandara / Stasiun untuk selanjutnya berkeliling men...

HARI KE 01 : JAKARTA/BANDUNG - CIATERSetibanya di Airport/stasiun kereta api - meeting service dengan guide - transfer Subang untuk bermalam di Ciat...

Hari 01 : Labuan Bajo - Pulau Komodo (L,D)Setibanya di Labuhan Bajo airport di Flores Barat anda akan disambut oleh Guide kami dan bersama-sama kita m...

Hari 1 : MEDAN - BRASTAGI (MS/MM) Tiba di Bandar Udara Polonia Medan, anda akan dijemput oleh pramuwisata kami untuk makan siang dan langsung menuju k...
Rekomendasi Hotel

Tamu di Gran Mahakam Hotel Jakarta akan menikmati lokasinya yang strategis, 45 menit dari bandara da...

Dengan kamar sejumlah 200 unit, Aryaduta Hotel Medan memiliki semua amenity dan layanan yang Anda ha...

Tamu di Arion Swiss-Belhotel Bandung akan menikmati lokasinya yang strategis, 10 menit dari bandara ...


